JAKARTA — Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang membayangi seiring datangnya musim kemarau menuntut kewaspadaan dan aksi tanggap dari seluruh elemen bangsa. Di tengah upaya pemerintah menggencarkan patroli terpadu dan pemanfaatan teknologi pemantauan titik panas, pelibatan publik dinilai sebagai kunci utama penentu keberhasilan mitigasi.
Ketua Bidang Lingkungan dan Kebencanaan Barisan Insan Muda (BIMA), Permana Irmansyah, menegaskan bahwa penanggulangan karhutla tidak boleh hanya bertumpu pada kebijakan makro pemerintah pusat. Menurutnya, ketahanan daerah mutlak harus dibangun berdasarkan partisipasi aktif masyarakat di tingkat akar rumput serta gerakan organisasi kepemudaan.
“Kesiapsiagaan harus dimulai dari tingkat lokal melalui konservasi sumber air, pengelolaan lahan berkelanjutan, hingga peningkatan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran,” tutur Permana.
Penguatan Jejaring Relawan dan Rehabilitasi Kawasan Hulu
Guna meredam potensi bencana sejak dini, Permana mendorong pembentukan jejaring relawan lingkungan, edukasi publik yang konsisten, serta pengawasan ketat terhadap aktivitas pembukaan lahan. Langkah preventif tersebut harus senantiasa dibarengi dengan pemulihan ekosistem secara berkala guna mengembalikan fungsi alam secara optimal.
Sebagai bagian dari solusi jangka panjang, BIMA turut mendorong gerakan reboisasi di kawasan hulu guna memperbaiki tata air, mengurangi laju erosi, serta menjaga keseimbangan hidrologi secara menyeluruh.
Mitigasi Berbasis Proyeksi Cuaca dan Kolaborasi Lintas Sektor
Langkah pencegahan ini menjadi semakin mendesak menyusul proyeksi dari BMKG serta BNPB yang mengindikasikan adanya potensi defisit curah hujan di berbagai wilayah strategis, termasuk Pulau Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, hingga Kalimantan.
Untuk menghadapi tantangan tersebut, sinergi yang kokoh di semua lini sangat dibutuhkan demi menjaga stabilitas dan ketahanan nasional.
“Kita harus menjaga ketahanan pangan melalui kolaborasi semua pihak, mulai pemerintah, petani, hingga komunitas lokal,” kata Permana, Selasa (4/8/2026).
Permana menaruh optimisme tinggi bahwa koordinasi lintas sektor yang solid antara pemerintah pusat, daerah, komunitas, serta warga akan mampu memperkokoh ketahanan kolektif dalam menghadapi musim kering yang ekstrem.
“Pencegahan harus menjadi prioritas utama karena dampaknya jauh lebih luas terhadap lingkungan maupun kesehatan masyarakat,” ujarnya.
Sebagai penutup, ia kembali mengingatkan bahwa efektivitas penanggulangan bencana sangat bergantung pada kesiapan kolektif sebelum musibah benar-benar terjadi di lapangan.
“Langkah pencegahan jauh lebih efektif dibandingkan penanganan setelah bencana terjadi,” tutupnya.



