Singgung Keluarga Megawati & SBY soal Politik Dinasti, Gus Miftah : Kok Hanya Gibran yang Dituding?

Nasional8 Views

Jakarta – Politik dinasti masih menjadi isu hangat dan jadi perbincangan akhir-akhir ini di ranah perpolitikan Indonesia. Topik ini mencuat usai majunya putra sulung Presiden Joko Widodo (Jokowi), Gibran Rakabuming Raka sebagai bakal cawapres, mendampingi bakal capres Prabowo Subianto di Pilpres 2024.

Tudingan kepada Gibran, yang dianggap akan melanggengkan politik dinasti ini, dibela oleh pendakwah kondang Gus Miftah.

Saat membela Gibran, Pendiri Pondok Pesantren Ora Aji, Sleman, Yogyakarta itu, sempat menyinggung nama Megawati hingga Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terkait persoalan ini.

“Pak Sukarno punya anak Bu Megawati, Bu Megawati punya anak mbak Puan Maharani, Pak SBY punya anak AHY, Gus Dur punya anak Yenny Wahid, tapi kenapa yang dibilang dinasti cuma mas Gibran saja,” kata Gus Miftah di Masjid Al-Husna, Pakuwon Mal Yogyakarta, Kamis (2/11/2023).

Gus Miftah pun melanjutkan, kalau masuknya Gibran dibilang dinasti, berarti siapapun yang mengatakan itu, berarti secara tidak langsung juga ingin mengatakan bahwa Megawati juga dinasti.

Menurut Gus Miftah, pemerintahan yang layak disebut sebagai politik dinasti, sebenarnya ada di negara Korea Utara (Korut). Di negara itu, sosok Kim Jong Il telah berkuasa sejak negara itu terbentuk.

Kemudian saat ia meninggal dunia, tahta itu diberikan kepada putranya, yakni Kim Jong Un. Penunjukkan itu dilakukan tanpa ada pemilihan secara demokratis.

Hal tersebut, kemudian yang kata Gus Miftah, tidak bisa disamakan dengan kondisi majunya Gibran sebagai bakal cawapres kali ini.

Mengingat Gibran, masih harus melewati proses demokrasi yakni Pilpres terlebih dulu.

“Ini kan tetap saja walaupun anaknya Pak Jokowi, kalau memang rakyat nggak suka ya nggak akan dipilih. Kalau kemudian rakyat suka ya dipilih. Jadi ini kembali kepada masalah kemampuan dan profesionalisme,” tambah Gus Miftah.

“Kalau memang dia anaknya Pak Jokowi dan dia punya kemampuan, kenapa enggak,” imbuhnya.

Menurut Gus Miftah, bahwa keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) soal syarat maju sebagai capres dan cawapres itu, justru menjadi kemenangan bagi anak muda. Sehingga anak-anak muda sekarang dapat lebih berperan untuk bangsa.

“Dan ini bagi saya kemenangan untuk anak muda, bagi saya keputusan MK itu, tidak hanya untuk mas Gibran, tapi untuk anak-anak muda seperti kita akhirnya bisa berperan,” ungkap Gus Miftah.

“Toh bagaimana kemudian Nabi juga mengatakan, bahwa anak muda ini juga harus diberi kesempatan,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *