Habib Syakur: Cukup Adu Domba! Prof Sofian Pilih Diam demi Bangsa

Nasional340 views

Jakarta – Inisiator Gerakan Nurani Kebangsaan (GNK), Habib Syakur Ali Mahdi Alhamid, angkat bicara menanggapi pernyataan kontroversial mantan Menpora Roy Suryo yang menuding adanya “operasi geng Solo” yang membungkam Prof. Sofian Effendi dalam kasus tuduhan ijazah palsu Presiden Jokowi.

Menurut Habib Syakur, narasi yang dibangun Roy Suryo tidak berdasar, tidak bertanggung jawab, dan penuh asumsi liar yang dapat memecah belah bangsa.

“Saya kenal baik dengan Prof Sofian. Beliau seorang intelektual sejati, bukan orang yang mudah ditekan. Kalau sikapnya berubah, itu karena beliau memilih untuk menyudahi polemik yang tidak berdasar dan tidak produktif bagi bangsa,” kata Habib Syakur dalam keterangan resminya, hari ini.

Habib Syakur: Stop Membajak Akal Sehat dengan Narasi Kebencian

Habib Syakur menyayangkan upaya segelintir pihak yang terus menggiring isu ijazah Presiden Jokowi meski telah berkali-kali dibantah secara hukum dan dibuktikan keabsahannya oleh lembaga resmi.

“Kita ini sedang membangun bangsa. Jangan terus diseret ke lubang dendam politik masa lalu. Jangan pakai nama akademisi seperti Prof Sofian untuk menggiring opini penuh prasangka.”

Tuduhan “Geng Solo” Adalah Fitnah Politik

Menyoal istilah “geng Solo” yang digunakan Roy Suryo, Habib Syakur menyebut istilah itu adalah bagian dari character assassination (pembunuhan karakter) yang merusak kepercayaan rakyat terhadap pemimpin yang sah.

“Pakai istilah geng? Ini negara, bukan geng. Pak Jokowi itu dipilih secara konstitusional. Kalau ada yang tak puas, tempuh jalur hukum, bukan lempar tuduhan liar ke publik. Ini sangat tidak etis.”

Habib juga menegaskan bahwa rakyat Indonesia sudah cerdas dan tidak mudah digiring oleh isu yang dibuat-buat tanpa bukti valid.

“Kalau punya bukti, silakan ajukan ke pengadilan. Tapi kalau hanya katanya dan kabar dari Jogja, itu bukan fakta hukum. Itu cuma ghibah politik.”

GNK Ajak Tokoh-Tokoh untuk Jaga Etika Kebangsaan

Sebagai tokoh kebangsaan, Habib Syakur mengajak para mantan pejabat, intelektual, hingga politisi untuk menjadi teladan moral, bukan justru menyulut api perpecahan.

“Mantan pejabat itu mestinya meneduhkan, bukan memprovokasi. Bangsa ini terlalu besar untuk dihancurkan oleh narasi kebencian.”

Prof Sofian Tidak Mundur, Beliau Maju ke Jalan Damai dan Kebangsaan

GNK meyakini bahwa perubahan sikap Prof Sofian Effendi bukan karena tekanan, tetapi karena kesadaran tinggi sebagai akademisi untuk tidak ikut larut dalam isu politik yang tidak berbasis hukum dan etika ilmiah.

“Beliau tidak dibungkam. Justru beliau menunjukkan kebesaran jiwa untuk tidak ikut memperkeruh suasana. Inilah contoh intelektual sejati,” pungkas Habib Syakur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *